Kesenian di Desa Klecorejo
Mejayan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Madiun yang terletak di timur. Mejayan merupakan pusat dari Kota Caruban sebagai ibu kota Kabupaten Madiun serta sebagai pusat ekonomi Madiun bagian timur. Mejayan terdapat pusat pemerintahan Kabupaten Madiun, alun-alun dan taman kota, masjid agung, Stasiun Caruban, Terminal Caruban, GOR, dan berbagai pusat perbelanjaan seperti Pasar Caruban. Mejayan dilintasi jalan nasional strategis yang menghubungkan Surabaya dengan Kota Madiun ke arah timur serta Kabupaten Ngawi ke arah utara.[1] Wilayah Mejayan semakin mengecil dengan dimekarkannya Kecamatan Wonoasri pada tahun 1982.[2]
Awalnya Mejayan merupakan ibu kota Kabupaten Madiun yang dipindahkan dari Kota Madiun pada tahun 2010.[3] Sejak tahun 2019, ibu kota Madiun resmi berubah nama menjadi Caruban namun lokasinya tetap di Kecamatan Mejayan.[4] Kecamatan Mejayan memiliki peninggalan sejarah dan wisata religi populer berupa komplek Makam Kuncen yang terdapat makam tokoh-tokoh penting masa Kesultanan Mataram. Tokoh tersebut antara lain Kiai Ageng Anom Besari yang berjasa menyebarkan Islam di wilayah ini, Pangeran Mangkudipuro (Bupati Madiun ke-14), Raden Cokrokusumo I (Bupati Caruban pertama), serta bupati Caruban lain dan tokoh lainnya.[5]
Mejayan memiliki berbagai ciri khas yang menjadi ikon Kabupaten Madiun. Dari segi kebudayaan, terdapat kesenian Dongkrek yang berasal dari Desa Mejayan. Kesenian ini berupa tarian menggunakan topeng sebagai ritual tolak balak.[6] Sedangkan dari segi kuliner, terdapat sentra brem di Desa Kaliabu. Brem adalah kudapan khas Madiun dengan rasa manis yang diolah dari cairan tape yang berasal dari fermentasi ketan.[7]


